Image
Rasa`il al-Maqrizi

Mesir memang gudang intektual Muslim. Dari sekian banyak intelektual di antaranya adalah Ahmad bin Ali bin Abd al-Qadir Abu Abbas al-Husaini al-Abidi Taqiyyuddin al-Maqrizi. Ia lahir pada tahun 766 H / 1364 M dan wafat pada tahun 845 H / 1442 di Kairo. Al-Maqrizi dikenal sebagai seorang sejarawan Mesir. Ia adalah orang yang sangat baik ingatannya dalam soal sejarah, tetapi ia juga sebagai manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Di antaranya adalah minimnya pengetahuan al-Maqrizi terhadap tokoh-tokoh terdahulu. Ia juga tidak terlalu menguasai sejarah tokoh-tokoh Islam, ilmu jarh dan ta’dil.

 

Akibatnya, pandangan-pandangan al-Maqrizi acapkali diabaikan para ulama, bahkan tidak sedikit yang mengkritiknya. Karya-karya al-Maqrizi tehitung banyak, dan hal ini jelas menunjukkan produktifitasnya. Di antaranya adalah kitab Daur al-‘Uqud al-Faridah fi Tarajum al-A’yan al-Mufidah, Imtina’ al-Asma’ bima li ar-Rasul min al-Abna` wa Akhwal wa al-Hafdah wa al-Mata’, ‘Aqd Jawahir al-Isfath fi Muluk Mishr wa al-Fusthath, al-Auzan wa al-Akyal asy-Syar’iyyah, dan lain sebagainya.

Meski ia adalah sejarawan tetapi ia juga banyak menguasai disiplin ilmu di luar sejarah sehingga di samping ia adalah seorang sejarawan ia juga bisa terlihat sebagai spiritualis ulung. Hal ini bisa kita lihat dalam pelbagai risalah-nya yang telah dikaji dan diedit oleh Ramadhan al-Badri dan Ahmad Mushtafa Qasim. Setidaknya ada 11 risalah al-Maqrizi yang dibukukan dalam buku bertitel Rasa`il al-Maqrizi.

Risalah pertama: tentang pertentangan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Dalam risalah ini al-Maqrizi menjelaskan tentang pertikaian antara kabilah Bani Umayyah dengan Bani Hasyim.Di sini al-Maqrizi juga memaparkan bagaimana Rasulullah saw memberikan kekuasan wilayah Makkah, Madinah dan Hadramaut kepada Bani Umayyah. Di samping itu, dengan gaya bahasa yang sangat indah al-Maqrizi menguraikan kekebengisan Abu al-‘Abbas, pendiri khilafah Abbasiyah, yang dijuluki as-Saffah (orang yang banyak mengalirkan darah). [H. 13-82].

Risalah kedua: tentang kemurnian tauhid. Al-Maqrizi membeberkan pelbagai perbedaan mendasar antara tauhid dan syirik. Menurutnya, inti dari ketauhidan adalah melihat bahwa segala sesuatu itu dari Allah dan mengabaikan lain-Nya, menyembah-Nya dengan sepenuh hati dan tidak menyembah selain-Nya. Hal ini berarti mengandung larangan untuk mengikuti hawa nafsu. Sebab, setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya maka dengan serta merta ia menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahannya.

Kemudian al-Maqrizi memaparkan tentang dua macam syirik yang menimpa pelabagai umat, yaitu syirik ilahiyyah dan rububiyyah. Syirik ilahiyyah inilah yang umumnya dilakukan orang-orang musyrik. Seperti menyembah berhala, malaikat, jin, dan orang-orang yang dianggap suci. Di samping itu juga menjeskan syiriknya kalangan Qadariyah, dan mengarahkan pandangan-pandangan Qadariyah dan Jabariyah dengan santun dan argumentatif. [H. 85-122]

Risalah ketiga: tentang kabilah-kabilah badui yang ada di Mesir. Dalam risalah ini juga dikemukan tentang pelbagai kabilah atau suku, klan, trah dan marga. Al-Maqrizi juga mengungkapkan dengan gaya bahasa yang indah mengenai pelbagai nama kabilah arab yang masih memiliki harta benda sampai sekarang di pelbagai propinsi Mesir mulai dari utara sampai selatan. Di samping itu, al-Maqrizi juga mengisahkan dengan alur sejarah yang indah tentang bagaimana kedatangan mereka dari jazirah Arab ke tanah Arab pada umumnya dan Mesir secara khusus. [H. 125-154]

Risalah keempat: tentang mata uang pada zaman dulu. Dalam soal ini, al-Baladiri dengan risalah-nya yang berjudul “an-Nuqud” telah mendahului al-Maqrizi. Risalah ini mengungkap tentang mata uang kuno yang berlaku pada awal-awal Islam, kekhilafahan Islam dan Abbasiyah. Al-Maqrizi juga menjelaskan dirham baghli dan dirham jawaz. Menurut penuturan al-Maqrizi, dirham baghli adalah mata uang yang berlaku di Persia. Di samping itu juga dijelaskan pengertian istilah awqiyyah, rithl, daniq, dan qirath. Menurut al-Maqirzi, setiap khalifah mencetak mata uang, seperti apa yang dilakukan oleh khalifah Usman bin Affan dengan mencetak mata uang dirham yang berlogo tulisan Allahu Akbar. [H. 157-175].

Risalah kelima: tengtang keutamaan keluarga nabi dengan diserati dalil-dalilnya, baik dari al-Qur`an maupun hadits. Di samping itu, dalam risalah ini al-Maqrizi juga melakukan perbandingan antara ayat-ayat al-Qur`an dan tafsirnya yang diambil dari pelbagai sumber-sumber tafsir yang otoritatif seperti al-Qurthubi dan Ibn ‘Athiyah. [H.179-212].

Di sini kita akan melihat bagaimana dengan piawinya al-Maqrizi menyodorkan kepada para pembacanya pelbagai ragam pendapat para ahli tafsir kenamaan.

Risalah keenam: tentang pelbagai hal kimiawi. Di antara yang dijelaskan di dalam risalah ini adalah mengenai metal atau unsur kimiawi yang berat. Di antaranya ialah emas, perak, tembaga, timah, besi, dan seng. Dalam risalah ini kita akan melihat bagaimana dengan bagusnya al-Maqrizi menjabarkan pelbagai unsur kimiawi sehingga ia nampak sebagai seoarang ahli kimia handal. [H. 215-227]

Risalah ketujuh: tentang raja-raja Islam di Habsyi. Dalam risalah ini, al-Maqrizi juga menjelaskan tentang negeri Habsyi. Di antara yang masuk ke dalam wilayah Habsyi ialah Zaila’ yang dibagi menjadi tujuh kerajaan, di antaranya adalah kerajaan Aufat, Hadiyyah, dan Daroh. Di samping itu dalam risalah ini kita akan melihat penjelasan secara tidak langusng mengenai kata bithriq (pemimpin para uskup) dan kata hathiyy dalam bahasa Habsyi yang sama dengan kata sulthan dalam bahasa Arab. Hal lain yang dijelaskan dalam risalah ini ialah penjelasan menganai pelbagai aliran yang ada Habsyi, seperti al-Ya’qubiyyah dan al-Malakiyyah. [H. 231-244].

Risalah kedelapan: tentang menggebu-gebunya jiwa-jiwa yang utama untuk melanggengkan dzikir. Risalah ini tergolong sangat pendek, tetapi isinya begitu menggugah jiwa. Bagi al-Maqrizi orang yang utama adalah orang yang selalu atau melanggengkan dzikir. [H. 247-251].

Risalah kesembilan: tentang akhr yang baik (husn al-khatimah) [H. 255-264]. Risalah kesepuluh: tentang teka-teki air. [H. 267-276]. Dan risalah kesebelas: tentang lebah. Inilah risalah yang sangat bagus dan banyak menarik pelbagai kalangan untuk mempelajarinya. Dalam risalah ini al-Maqrizi menjelaskan bagaimana lebah yang bagus, sifat-sifatnya dan nama-namanya, serta pelbagai macam madu. [H.279-342].

Semua risalah yang tulis al-Maqrizi menunjukkan bahwa ia adalah orang yang banyak mengetahui pelbagai hal. Dengan kata lain al-Maqrizi adalah salah satu intektual Muslim yang multidimensi. Al-Maqrizi tidak hanya menguasai pelbagai pengetahuan keagamaan, tetapi ia juga mengusai dengan baik pelbagai pengetahuan non-keagamaan. Jarang sekali ada intektual yang banyak menguasai pelbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti al-Maqrizi ini. Inilah salah satu sosok intelektual yang patut kita tauladani. Dan untuk menyelami kedalaman ilmu al-Maqrizi kita perlu membaca risalah-risalah-nya. Di situlah kita akan merasakan kegaguman yang luar biasa. Selamat membaca[].

Tentang Buku

 Judul  :  Rasa`il al-Maqrizi
 Penulis  :  Taqiyuddin al-Maqrizi
 Penerbit  :  Dar al-Hadits-Kairo
 Cet  :  1427 H / 2006
 Tebal  :  368 halaman

Sumber: Pondok Pesantren